photo's blog

photo's blog
"ada kehidupan di setiap sudut dunia, walau itu kecil"

Rabu, 13 Oktober 2010

Ikebana, Merangkai Bunga dari Hati

Alam adalah inspirasinya. Maka, rangkaian itu menghadirkan harmonisasi bentuk kipas dengan sebuah bunga krisan bertangkai paling tinggi sebagai titik perhatian. Tiga krisan lain yang mengapit bunga tertinggi melengkung sesuai arah apitannya. Krisan di sisi kiri melengkung ke kiri. Begitu pula krisan di sisi kanan. Tidak ada bantuan kawat untuk membelokkan arah tangkai krisan yang awalnya tegak lurus.
''Tuhan menciptakan pohon dulu ke atas baru bercabang,'' ujar sang perangkai bunga.
Inilah inspirasi yang mengilhami seni merangkai bunga dari Jepang atau ikebana --berarti bunga segar yang hidup. Karena gagasan datang dari alam, maka tidak ada bunga, ranting, daun, atau buah yang tidak bisa digunakan. Tak harus segar, perangkai ikebana bernama Tati Tusin itu mengatakan daun yang mulai menguning bahkan dapat menambah keindahan rangkaian bunga ikebana. Tidak ada ciptaan Tuhan yang tidak bisa dirangkai dalam ikebana. Sejatinya, ikebana adalah memindahkan keindahan alam ke dalam jambangan.''Itulah indahnya ikebana,'' ujar Tati Tusin, presiden Ikebana Internasional Chapter 224 Jakarta. ''Berbeda, tapi punya ciri khas,'' ujarnya lagi.
Keindahan ikebana pula yang membuat banyak orang dari banyak negara jatuh hati. Dari seluruh negara di dunia, Jakarta termasuk dalam urutan ke-224 dalam keanggotaan di Ikebana International, sebuah organisasi yang khusus beranggotakan para pencinta ikebana. Alhasil, Tati Tusin pun diangkat menjadi presiden Chapter 224 Jakarta kali ini.
Ikebana International pertama kali berdiri pada tahun 1956 di Tokyo, Jepang. Seingat Tati, chapter nomor satu adalah pencinta ikebana dari New York. Saat ini Ikebana International tersebar di 50 negara dengan lebih dari 10 ribu orang anggota.
Sebenarnya di Indonesia, kata Tati, Medan dan Makassar terlebih dulu memiliki nomor chapter dari Ikebana International. Namun, chapter Ikebana International dari kedua kota itu tidak berkembang. Di Jakarta, komunitas pencinta ikebana sudah berdiri sejak 4 April 1984.
Ingin tahu
Antusiasme itu pula yang tampak ketika berlangsung demonstrasi ikebana yang digelar Chapter 224 di Japan Foundation Jakarta pertengahan bulan lalu. Hampir seluruh pengunjung pameran dan demonstrasi ikebana itu adalah perempuan yang sebagian besar adalah kaum ibu yang sudah berumur.
Padahal, Tati memastikan kalau ikebana bukan seni merangkai bunga yang sudah ketinggalan zaman. Katanya, ''Yang kuno bisa diperbarui.'' Meski berdiri sejak 24 tahun lalu, anggota keseluruhan Chapter 224 saat ini hanya 50 orang. Penyebabnya, tutur anggota Chapter 224, Wiwiek Tony Surono, penggemar ikebana di Indonesia ibaratnya 'hangat-hangat tahi ayam'. Kebanyakan peserta kursus merangkai bunga ini hanya ingin tahu.
Itu pun tidak semuanya tercatat sebagai anggota resmi Ikebana International. Biaya keanggotaan sebesar enam ribu yen atau sekitar Rp 500 ribu per tahun mengurungkan niat sebagian anggota untuk tercatat sebagai anggota resmi Ikebana International. Alhasil, baru separuh dari komunitas pencinta ikebana di Jakarta yang memiliki kartu keanggotaan dari Tokyo.
Akan tetapi, itu bukan masalah. Ikebana terletak di hati perangkainya. Bukan pada sepucuk kartu tanda anggota. Merangkai bunga ala Jepang memang tidak bisa dilakukan sambil lalu. Barisan krisan yang begitu rendah hati itu membutuhkan kedamaian jiwa perangkainya. Tanpa konsentrasi, Tati serta Wiwiek memastikan ikebana tidak dapat dirangkai dengan indah. ''Pikiran yang tercampur dengan kesibukan lain akan memengaruhi rangkaian,'' kata Tati. Harus ada kesabaran, rasa rileks, dan ketenangan diri. Karena ikebana adalah rangkaian dari hati. Tanpanya, ikebana laksana rangkaian bunga tanpa nyawa. Wiwiek berujar, ''Seperti perempuan cantik, tapi kosong.''
Penghilang Stres
Ada kenikmatan dalam batin Wiwiek Tony Surono setiap kali merampungkan rangkaian bunga. Ikebana membuat ketua aliran ohara di Chapter 224 itu bersyukur dapat merasakan kebesaran Tuhan. Rangkaian ikebana ohara memang sangat dekat dengan alam. Prinsipnya, tidak ada bahan rangkaian yang boleh diubah wujudnya. ''Bila alam berkehendak suatu bunga untuk lurus, maka ohara tidak akan membengkokkannya,'' kata Wiwiek.
Untuk menghasilkan suatu rangkaian, dalam alirannya, manusialah yang harus berusaha mencari keselarasan itu. Dari usaha itu Wiwiek menyadari betul bahwa manusia tidak ada apa-apanya di mata Tuhan. Bahwa hanya kesabaran dan keikhlasan yang menjadi senjata manusia dalam kehidupan. Persis seperti ikebanaohara. ''Apa adanya, tapi indah.''
Mantan Presiden Chapter 224 tersebut lantas menyarankan warga Jakarta untuk melirik seni merangkai bunga ikebana. Minimal, katanya, hobi ini bermanfaat untuk mengurangi stres.
Tengok saja kehidupan masyarakat tempat ikebana berasal. Jepang adalah roda ekonomi dunia. Penduduknya dikenal cerdas, pekerja keras, dan menganut disiplin tinggi. Dengan tuntutan untuk selalu menjadi yang terbaik, sudah pasti tingkat stres warga Jepang tinggi.
Wiwiek yang sempat mencicipi kehidupan di sana selama delapan tahun paham betul tekanan yang dibebankan pada para ibu. Sebagai pengurus rumah, ibu memiliki kewajiban untuk mengurus anak. Bedanya di Jepang, peran itu minim bantuan ayah.
Sebagai generasi penerus bangsa, setiap ibu diharapkan sanggup mencetak pemimpin masa depan. ''Buktinya meski belajar sampai sore, makan siang setiap anak Jepang dibuat beda-beda lho. Tergantung kebutuhan gizi masing-masing,'' papar Wiwiek.
Nah, ikebana berfungsi mengurangi ketegangan saraf para ibu. Saat suami bekerja, anak-anak sekolah, bunga-bunga bisa jadi pelepas stres. Di Jepang, rangkaian ikebana biasanya diletakkan di atas rak sepatu. ''Di sana, sebelum masuk rumah harus lepas sepatu dan ganti sandal. Nah, ikebana itu menjadi hal pertama yang dilihat suami atau anak ketika pulang,'' tuturnya.
Dari pilihan warna dalam ikebana yang dirangkai istri, biasanya suami tahu kadarmood pasangannya. ''Kalau lagi senang bunganya cerah. Kalau lagi agak sendu bunga-bunganya bisa berwarna gelap,'' jelas Wiwiek. Rangkaian sederhana di atas rak sepatu bertujuan mencairkan ketegangan hati suami akibat pekerjaan di kantor. Bisa juga menjadi penanda untuk bersikap manis kala hati sang istri sedang galau.
Pelajaran Seumur Hidup
Semula, niat untuk mempelajari ikebana di tahun 1979 itu begitu menggelora. Namun, setelah mendapat penjelasan dari guru yang asli Jepang, dengan bahasa Inggris terbata-bata, Tati Tusin merasa tidak ada yang menarik dari ikebana. ''Kokbiasa aja,'' batinnya.
Setibanya di rumah Tati mencoba merangkai sendiri ikebana. Beberapa helai daun turut hadir pada rangkaian bunga shoka yang baru diajarkan gurunya. Tati berpikir dedaunan akan menambah keelokan rangkaian.
Ternyata, Tati salah kaprah. Dia baru tahu kalau rangkaian shoka dalam ikebanaikenobo tidak boleh dicampur dengan bahan lain. Rupanya, barisan bunga tersebut memiliki filosofi tersendiri. Gara-gara itu, justru Tati terpicu untuk mendalami ikebana. ''Dari ingin tahu sekarang malah jadi guru,'' katanya sembari tertawa.
Julukan Tati sekarang adalah profesor ikebana ikenobo Indonesia. Itu karena belum ada perangkai ikenobo dengan ilmu setinggi dia. Ikebana juga bukan rangkaian yang bisa dipelajari seluruhnya. Alhasil, kendati bertitel profesor, keahlian Tati sebatas pada merangkai ikebana ikenobo. Ia tidak bisa merangkai bunga sesuai enam aliran ikebana lainnya. ''Memang harus begitu,'' ujarnya.
Fokus dan memilih kemudian menekuni satu aliran saja. Demi menambah ilmunya, setiap tahun Tati bertolak ke Negara Sakura. ''Sampai sekarang rasanya ilmu saya belum pernah cukup,'' alasannya. Buat Tati, ikebana adalah pelajaran seumur hidup.
Segar dan Hidup
Pada abad ketujuh ikebana hanya dipraktikkan dalam sebuah kuil di Kyoto. Perangkainya adalah para biarawan kuil. Baru setelah abad ke-15 rangkaian bunga tersebut dibuat di luar kuil. Sejak saat itu aliran ikebana terus berkembang. Meski membedakannya tidak mudah, setiap aliran memiliki ciri khas tersendiri.
Di Indonesia, dikenal tujuh aliran ikebana. Pertama adalah ikenobo alias aliran paling tua sepanjang riwayat ikebana. Kemudian aliran ikebana ohara yang bergabung pada 1989. Dilanjutkan dengan ikebana koryu, misho-ryu, sogetsu, ichiyo, dan shofukadokai.
* Ikenobo
Berhubung ikebono adalah aliran yang umurnya paling tua, maka beberapa pendapat mengatakan ikebono adalah asal mula ikebana. Pada awal sejarahnya rangkaian bunga dikenal dengan nama tatebana, artinya bunga yang berdiri.
* Ohara
Aliran ini didirikan pada tahun 1895 oleh Unshin Ohara. Ohara mengenal empat pilar dalam merangkai bunga serta vas berair yang mewadahinya, yaitu hana-isho, moribana, heika, serta hanamai.
* Koryu
Ikebana ini termasuk aliran yang tertua setelah ikenobo. Pelajaran koryu terdiri dari lima tingkatan. Keistimewaannya, ikebana koryu dapat dirangkai memakai bunga dalam jumlah banyak.
* Misho-Ryu
Ippo Mishohai adalah pencetus berdirinya ikebana misho-ryu. Sejak diciptakan pada tahun 1807, model pertama rangkaian bunga ini adalah kakubana yang tradisional. Selanjutnya pada tahun 1930, model shinka tercipta.
* Sogetsu
Prinsip aliran ini adalah mengikuti hidup gaya kontemporer. Daya tarik kehidupan beragam tanaman serta bunga yang berwarna-warni merupakan alat meraih nuansa kehidupan. Sekaligus berguna sebagai cara melestarikan kebebasan berekspresi. Sofu Teshigara pertama kali membuka sekolah ikebana sogetsu pada tahun 1927.
* Ichiyo
Ada enam gaya dasar dari aliran yang ada sedari 1937. Gaya itu tergantung pada sifat tanaman. Seperti gaya tegak, condong, pendek, bergantung, gaya empat arah.
* Shofukadokai
Filosofi aliran yang dimulai Shofu Ryu pada 1917 adalah melimpahkan perasaan lewat tanaman. Pada perkembangannya, limpahan perasaan tadi dipadukan dengan ide lain serta meningkatkan rasa seni lewat tanaman.



Ikebana merupakan seni merangkai bunga dari Jepang. Seni merangkai bunga ini telah dikembangkan sejak lama dan sampai saat in masih dilestarikan. Ikebana memiliki berbagai macam aliran. Berasimilasinya kebudayaan Jepang dengan kebudayaan Barat juga telah menghasilkan berbagai gaya dalam merangkai bunga. Ikebana memiliki beberapa aliran yang masih dikembangkan sampai saat ini, antara lain:
1. Ikenobo, yakni aliran tradisional. Rangkaian bunga aliran ini untuk tata ruang secara umum dan bersifat terlalu kaku.
2. Oharo
3. Ko-ryu, untuk seni merangkai bunga ini dibutuhkan wadah kristal.
4. Soget-su, aliran ini menggunakan bahan-bahan bunga yang bersifat lebih alami (natural).
5. Ichiyo-shiki, untuk seni merangkai bunga ini dibutuhkan wadah kristal atau gelas.
6. Moribana merupakan seni merangkai bunga bergaya bebas (free style). Rangkaian ini hanya menggunakan 3 (tiga) bunga Jepang saja. Namun, jika tidak ada bunga dari Jepang, dapat digunakan bunga apa saja dengan catatan jumlah bunga dalam rangkaian hanya 3 (tiga) bunga saja.
ikebanaBunga-bunga yang dapat digunakan dalam rangkaian ikebana antara lain: Casablanca, Carnation/Anyelir, Lily (bentuknya hampir sama dengan bunga Casablanca namun lebih lancip bunga Lily), Balon, Aster, Antarium. Daun-daun yang dapat digunakan antara lain: Suji, Andong, Ivy (daun pohon anggur), Atrium (bentuknya seperti daun talas), Baby Breathe, Papirus (bentuknya seperti batang lidi, panjang, hidupnya di air), Ultra Sena (bentuknya seperti lidi lebih keras/seperti rumput), Pakis doren, Taiwan Leaf (ada bintik dan berwarna putih), daun florida, ranting akar.
Agar rangkaian bunga bertahan lama, beri campuran air dan arang supaya rangkaian bunga tidak layu dan dapat bertahan selama 5 (lima) hari. Penyangga rangkaian bunga dapat menggunakan kawat, spons kawat. Wadah rangkaian lebih banyak menggunakan warna yang natural. Ciri khas yang membedakan ikebana dengan gaya merangkai bunga yang lain adalah penggunaan daun-daunan dan bunga yang terbatas. Ikebana tidak membutuhkan banyak bunga atau daun untuk dirangkai. Penggunaan bunga dan dedaunan mengikuti aturan yang ternyata didasari oleh filsafat ikebana. Filsafat yang terkandung dalam ikebana adalah adanya keseimbangan hubungan antara pencipta, manusia, dan alam sekitar. Kebanyakan seni Jepang mendapatkan pengaruh dari ajaran Shinto (zen) yang mengajarkan keseimbangan antara hubungan antara pencipta dengan manusia, manusia dengan sesamanya dan alam sekitarnya. Ini tercermin dari susunan bunga dan dedaunan yang dirangkai serta jumlahnya yang ganjil. Dalam setiap rangkaian ikebana, selalu ada 1 bunga atau daun yang lebih tinggi, ini mencerminkan hubungan antara manusia dengan pencipata, kemudian bunga atau daun yang ditempatkan agak rendah yang berarti hubungan antara manusia dengan manusia dan terakhir bunga atau dedaunan yang ditempatkan ke arah bawah yang mencerminkan hubungan manusia dengan alam sekitarnya.
ikebana-3Bagi orang yang ingin mendalami seni ikebana, dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mempelajarinya. Selain itu juga dibutuhkan kesabaran, ketekunan, serta cita rasa seni tinggi untuk mempraktekkannya. GIC (Galung International Community) mengadakan demo ikebana yang dipandu oleh Ibu Nora Suzuki, M.A..Beliau pengajar sastra Jepang di Universitas Darma Persada dan beberapa universitas swasta di Jakarta. Selain mengajar, beliau mendalami ikebana dan pada sebuah kesempatan bersedia membagi ilmu tentang ikebana kepada para undangan GIC. Dalam acara ini, GIC mengundang ibu-ibu di sekitar GIC untuk hadir dan belajar ikebana.
Dalam acara ini, para undangan antusias mendengarkan dan turut mempraktekkan ikebana. Ada beberapa gaya yang diperagakan oleh pemandu. Pada acara ini, beberapa macam bunga digunakan seperti bunga casablanca, daun suji, bunga mawar, aster, dan sebagainya. Ikebana hanya menggunakan sedikit bunga dan lebih banyak dedaunan. Alat-alat yang digunakan antara lain cutter, gunting pemotong bunga atau daun, wadah untuk menempatkan bunga (vas, jambangan, pot yang berwarna natural), kertas krep daun dan preker untuk menempatkan/ penegak bunga. Cara memotong batang bunga ialah dari bawah batang dan menyerong ke kanan. Rangkaian bunga ikebana dapat digunakan untuk berbagai acara, di Jepang sendiri, rangkaian bunga ikebana digunakan dalam upacara tradisional, atau acara-acara khusus tertentu bahkan juga kegiatan sehari-hari untuk mempercantik ruangan.
Di masa mendatang, GIC akan mengadakan kembali kegiatan-kegiatan kebudayaan, sesuai dengan visi dan misi kami, tidak lengkap rasanya hanya mempelajari bahasa dari negeri lain tanpa mempelajari budayanya, karena bahasa merupakan hasil budaya dan saling berkaitan satu sama lain. (Putu Ayu Wulansari).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Laman